Fri. Apr 23rd, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Paus Fransiskus Kunjungi Bekas Daerah Kekuasaan ISIS di Irak

7 min read

Jakarta –

Paus Fransiskus mengunjungi beberapa daerah di Irak utara yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok yang menamai diri mereka Negara Islam (ISIS) pada hari ketiga perjalanan bersejarahnya ke negara itu.

Militan menyerbu wilayah itu pada tahun 2014, menghancurkan gereja-gereja bersejarah dan melakukan penjarahan.

Umat Kristen telah kembali ke sana sejak ISIS dikalahkan pada 2017.

Paus juga akan merayakan Misa di sebuah stadion sepak bola di kota Erbil, acara yang diperkirakan akan dihadiri 10.000 orang.

 

Ada kekhawatiran acara itu bisa menyebarkan virus corona.

Kasus Covid-19 di negara itu telah mengalami peningkatan tajam selama sebulan terakhir, membuat perjalanan Paus sangat berisiko.

Pemimpin Gereja Katolik berusia 84 tahun itu dan rombongannya telah divaksinasi, tetapi Irak baru menerima dosis pertama minggu lalu.

Pope Francis greets people as he arrives to hold a Mass at the Chaldean Cathedral of

Paus Fransiskus menghadiri Misa di katedral Khaldea di Baghdad pada hari Sabtu (Reuters)

Apa yang dikatakan Paus?

Pada hari Minggu (07/03), Paus mengunjungi Mosul – bekas benteng ISIS selama tiga tahun. Di sana, dia berdoa di Church Square untuk para korban perang yang menewaskan puluhan ribu warga sipil.

Dikelilingi oleh reruntuhan empat gereja, dia mengatakan eksodus umat Kristen dari Irak dan Timur Tengah telah menyebabkan “kerugian yang tak terhitung, tidak hanya bagi individu dan komunitas terkait, tetapi juga terhadap masyarakat yang mereka tinggalkan”.

Merujuk pada kawasan bersejarah Mesopotamia, yang meliputi sebagian besar Irak modern termasuk Mosul, Paus Fransiskus berkata: “Betapa kejamnya bahwa di negara ini, tempat lahir peradaban, harus dilanda pukulan yang begitu barbar, dengan tempat-tempat ibadah kuno hancur dan ribuan orang – Muslim, Kristen, Yazidi dan lainnya – terpaksa mengungsi atau dibunuh.

“Hari ini, bagaimanapun, kami menegaskan kembali keyakinan kami bahwa persaudaraan lebih kuat dibandingkan pembunuhan saudara, bahwa harapan lebih kuat daripada kebencian, dan bahwa perdamaian lebih kuat daripada peperangan.”

Pope Francis on Church Square in Mosul, Iraq, 7 March

Reuters

ISIS menodai tempat ibadah Kristen, memenggal kepala patung yang terkait keagamaan, dan memasang bom di sana.

Sebuah salib didirikan di Alun-alun Gereja untuk mengbadikan kunjungan Paus. Salib itu dibuat dari kursi kayu yang diselamatkan dari gereja-gereja di seluruh wilayah, sebagaimana diberitakan outlet berita Timur Tengah The National.

Dia kemudian akan mengunjungi gereja terbesar Irak, yang sebagian dihancurkan oleh ISIS, di dekat Qaraqosh.

Perjalanan empat hari, yang dimulai pada hari Jumat, adalah perjalanan internasional pertama Paus sejak dimulainya pandemi lebih dari setahun yang lalu, dan kunjungan Paus yang pertama ke negara itu.

People pray on Church Square in Mosul, Iraq, 7 March

Reuters

Beberapa kelompok militan Syiah dilaporkan menentang kunjungan tersebut. Mereka menyatakan tur tersebut merupakan campur tangan Barat dalam urusan negara.

Sekitar 10.000 personel Pasukan Keamanan Irak dikerahkan untuk melindungi Paus selama kunjungannya, selain itu jam malam juga diberlakukan untuk membatasi penyebaran Covid-19.

Pemimpin gereja Katolik berusia 84 tahun itu sebelumnya berkata kepada wartawan bahwa ia merasa “terikat oleh tugas” untuk melakukan perjalanan “simbolik” ke berbagai situs di Irak.

Temui Ulama Syiah

Kelompok minoritas Kristen Irak telah dilanda gelombang kekerasan sejak invasi yang dipimpin AS ke negara itu pada tahun 2003.

Paus Fransiskus membahas keselamatan kelompok itu dengan seorang ulama Islam Syiah terkemuka, pada hari kedua lawatan bersejarahnya ke Irak.

Ayatollah Agung Ali al-Sistani (kiri) bersama Paus Fransiskus di Najaf, Irak, 6 Maret 2021.Ayatollah Agung Ali al-Sistani (kiri) bersama Paus Fransiskus pada hari Sabtu. (Reuters)

Kantor Ayatollah Agung Ali al-Sistani, pemimpin spiritual jutaan Muslim Syiah, mengatakan pembicaraan tersebut menekankan perdamaian.

Sang Ayatollah menerima Paus di rumahnya di kota suci Najaf.

Audiensi dengan sang ayatollah yang dikenal sebagai penyendiri jarang terjadi, tetapi dia menerima Paus selama sekitar 50 menit. Keduanya terlihat berbicara tanpa mengenakan masker.

Konvoi Paus Fransiskus berangkat setelah pertemuannya dengan Ayatollah Agung Ali al-Sistani di Najaf, Irak, 6 Maret 2021

Sebuah spanduk di Najaf menyebut pertemuan itu “antara minaret dan lonceng”. (Reuters)

Ayatollah Agung al-Sistani “menegaskan kepeduliannya bahwa warga Kristen harus hidup dalam perdamaian dan keamanan seperti semua warga Irak dan dengan hak konstitusional mereka secara penuh”.

Paus Fransiskus berterima kasih kepada Ayatollah karena telah “bersuara untuk membela mereka yang paling lemah dan paling teraniaya” selama masa-masa paling kejam dalam riwayat Irak, sebagaimana dilansir kantor berita Associated Press.

Pesan perdamaian pemimpin Syiah itu, katanya, menegaskan “kesucian hidup manusia dan pentingnya persatuan rakyat Irak”.

Paus Fransiskus

Paus Fransiskus tiba di Baghdad, Irak, hari Jumat (05/03), lawatan pertama pemimpin Katolik dunia ke negara tersebut. (Reuters)

Pertemuan simbolis

Analisis oleh Mark Owen, koresponden BBC di Roma

Inilah pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun: pertemuan antara pemimpin Gereja Katolik dan salah satu ulama paling tersohor dalam Islam Syiah, Ayatollah Agung Ali al-Sistani.

Bagi seorang paus yang bersemangat untuk merangkul agama lain, pertemuan tersebut bisa dibilang sebagai momen paling simbolis dari kunjungannya ke Irak.

paus, irak, paus fransiskus, Ur, katolikReutersPaus Fransiskus akan mengadalan dialog lintas agama di Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim.

Komunitas Kristen yang jumlahnya terus menyusut di Irak telah mengalami kekerasan di tangan kelompok-kelompok Syiah – dan sang ulama dipandang sebagai suara moderat.

Paus juga berkunjung ke Ur – tempat kelahiran Nabi Ibrahim, dengan harapan bahwa sosok yang dihormati oleh orang Kristen, Muslim, dan Yahudi, dapat mendorong kerukunan di masa kini.

Apa yang dikatakan Paus sejauh ini?

Tak lama setelah disambut oleh Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi di bandara Baghdad pada hari Jumat, Paus menyerukan “akhir bagi tindakan kekerasan dan ekstremisme, faksi dan intoleransi”.

“Irak telah merasakan dampak merusak dari peperangan, bencana terorisme dan konflik sektarian,” ujarnya dalam sebuah pidato.

“Keberadaan kaum Kristen yang sudah lama di tanah ini, dan kontribusi mereka pada kehidupan bangsa, merupakan warisan kaya yang mereka harap dapat diteruskan untuk melayani semua,” imbuh Paus.

Ia berkata komunitas Kristen yang terus berkurang di Irak harus memiliki peran yang lebih penting sebagai warga negara dengan hak, kebebasan, dan tanggung jawab penuh.

The Pope was greeted by Iraq's PM and dancers at the airport in BaghdadReutersPaus Fransiskus disambut oleh PM Irak dan penari di bandara di Baghdad.

Komunitas Kristen di Irak, salah satu yang tertua di dunia, jumlahnya merosot dalam dua dekade terakhir dari 1,4 juta hingga sekitar 250.000, kurang dari 1% populasi.

Banyak yang melarikan diri ke luar negeri dari kekerasan yang telah melanda negeri itu sejak invasi yang dipimpin AS pada 2003, yang menggulingkan Saddam Hussein.

Puluhan ribu orang Kristen juga terusir dari rumah mereka ketika kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) menyerbu Irak utara pada 2014, menghancurkan gereja bersejarah, merampas properti mereka, dan memberi mereka pilihan untuk membayar pajak, masuk Islam, pergi, atau dihukum mati.

Gabungan berbagai faktor ini membuat para pejabat gereja meyakini “ada kemungkinan Kristen akan hilang dari Irak”.

Paus FransiskusReutersPaus Fransiskus melambaikan tangan saat meninggalkan bandar udara menuju Baghdad, hari Jumat (05/03).

Bagi Vatikan, lawatan ke Irak menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi Paus Fransiskus untuk menemui langsung komunitas Kristen, berada di tengah-tengah mereka dan memberikan dukungan penuh.

Sebelumnya, di dalam pesawat menuju Irak, Paus mengatakan dirinya senang bisa melakukan perjalanan lagi, dan menambahkan, “Ini adalah perjalanan simbolik dan ini adalah tugas menuju tanah yang menjadi martir selama bertahun-tahun.”

Siapa umat Kristen di Irak?

  • Orang-orang di wilayah yang kini bernama Irak, telah memeluk agama Kristen sejak abad ke-1 Masehi.
  • Berdasarkan data Departemen Luar Negeri AS, para pemuka agama Kristen memperkirakan jumlah penganut Kristen di Irak mencapai kurang dari 250.000 jiwa. Populasi terbesarsedikitnya 200.000 jiwaberada di Dataran Niniwe dan Wilayah Kurdistan di bagian utara Irak.
  • Sekitar 67% dari mereka adalah penganut Katolik Chaldean, yang punya liturgi dan tradisi ketimuran namun mengakui otoritas Paus di Roma. Sebanyak 20% lainnya adalah anggota Gereja Assyria Timur, yang diyakini sebagai komunitas Kristen tertua di Irak.
  • Sisanya adalah penganut Ortodoks Suriah, Katolik Suriah, Katolik Armenia, Apostolik Armenia. Ada pula penganut Anglikan, Evangelikal, dan umat Prostestan lainnya.

Apa yang hendak dicapai Paus Fransiskus?

Kepala Gereja Katolik Roma tersebut hendak menguatkan umat Katolik yang dipersekusi serta menyerukan perdamaian dalam pertemuan dengan para pemimpin politik dan pemuka agama lainnya, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, Mark Lowen, yang turut bepergian bersama Paus.

paus, irak, paus fransiskus, gereja ImakulataReutersGereja Imakulata di Qaraqosh sempat diporak-porandakan milisi ISIS, namun kini telah direstorasi.

Ketika menyampaikan pesan kepada rakyat Irak melalui video sehari sebelum memulai kunjungan, Paus Fransiskus mengatakan dirinya “datang sebagai musafir, sebagai musafir dengan kerendahan hati, untuk memohon ampun kepada Tuhan serta rekonsiliasi setelah perang dan terorisme selama bertahun-tahun, untuk memohon pada Tuhan akan penghiburan bagi banyak hati dan pemulihan luka-luka”.

Ditambahkannya, “Saya datang ke tengah-tengah Anda juga sebagai musafir perdamaian … mencari persaudaraan dan didorong hasrat untuk berdoa dan berjalan bersama, juga dengan saudara-saudari kita dari tradisi agama lain, dalam jejak Bapa Abraham, yang bersatu dalam satu keluarga Muslim, Yahudi, dan Kristen.”

Paus berkata lagi kepada umat Kristen di Irak, “Saya ingin membawakan belaian penuh kasih dari segenap Gereja, yang dekat dengan Anda, dan kepada Timur Tengah yang dipenuhi peperangan, serta mendorong Anda untuk tetap bergerak maju.”

Rencana paus-paus pendahulu

Paus-paus sebelumnya sebenarnya sudah berencana berkunjung ke Irak, tapi karena beberapa alasan, lawatan tersebut tidak terlaksana.

Warga Irak menyambut Paus di bandara Baghdad.ReutersWarga Irak menyambut Paus di bandara Baghdad.

Paus Yohanes Paulus II berniat melawat ke Irak pada 2000, namun dibatalkan karena ketegangan di kawasan.

Paus Benediktus juga mendapat undangan tapi tidak bisa berangkat karena perang.

Menurut The New York Times, presiden Irak saat ini, Barham Salih, mengirim undangan untuk Paus Fransiskus pada Juli 2019 dengan harapan lawatannya bisa membantu menyembuhkan luka Irak, negara yang dikoyak-koyak perang selama bertahun-tahun.

paus, irak, paus fransiskusReutersSekitar 10.000 aparat keamanan Irak dikerahkan selama kunjungan Paus.

Paus menerima undangan ini dan mengatakan bahwa dirinya tak ingin mengecewakan rakyat Irak, terutama komunitas Kristen di sana.

Vatikan memahami tantangan yang dihadapi Paus — baik faktor keamanan maupun situasi pandemi — tapi manfaat yang didapat dinilai jauh lebih banyak. Ini adalah kesempatan berharga bagi Paus untuk mendukung dan berada di tengah mereka, salah satu komunitas Kristen tertua di dunia.

Beberapa jam setelah serangan roket ke sebuah pangkalan militer yang menampung pasukan AS pada Rabu (03/03), Paus menegaskan bahwa umat Katolik di Irak tidak boleh “dikecewakan untuk kedua kalinya”.

paus, irak, paus fransiskusReutersKunjungan Paus ke Irak adalah lawatan perdananya ke luar negeri sejak pandemi Covid-19 melanda dunia.

Baca juga !